Showing posts with label Nationalism. Show all posts
Showing posts with label Nationalism. Show all posts

Sunday, December 30, 2012

Habibie&Ainun (The Movie)

Well, well, well. Liburan memang sudah lewat 1 minggu 1 hari. Terhitung sejak tanggal 22 Desember 2012. Raport? Alhamdulillah :) kalau kita percaya dan bersungguh-sungguh pasti Allah memberikan balasannya, ya kan?

Oke. Liburan kali ini gue sudah nonton Habibie&Ainun dua kali! Dan nggak bosen! Gue tetep nangis tiap nonton itu. Karena ceritanya memang 'touching' banget. Must watch deh!

Ini sama temen

Ini waktu nonton sama Ayah dan Puput


Film ini bercerita tentang kisah cinta Pak Habibie dan Bu Ainun. Bukan sekedar kisah cinta biasa, tapi dari sana kita bisa belajar tentang kepercayaan, kesetiaan, dan cinta sejati. Di film ini juga diceritakan bagaimana Pak Habibie memulai karirnya di Indonesia sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi, lalu menjadi Wakil Presiden ke-7 pada masa jabatan Pak Soeharto, dan akhirnya beliau menjabat sebagai Presiden RI ke-3.
Di film ini gue jadi sedikit-banyak tau tentang sosok Pak Habibie seperti apa sikapnya, perjuangannya, dan perjalanan hidupnya. Beliau adalah seorang yang jenius. Indonesia beruntung memiliki seorang Pak Habibie :) berkatnya, Indonesia bisa mempunyai pesawat terbang sendiri. Hasil karya beliau yang membuat Indonesia dipandang pada zamannya.
Gue nangis pas bagian terakhir dari film ini, ketika Bu Ainun mulai di operasi selama 9 kali, karena komplikasi kanker yang dideritanya. Pak Habibie tetep setia nemenin Bu Ainun 'bolak-balik' di operasi. Beliau tetep tegar dan berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa Bu Ainun akan sembuh, walaupun sebenarnya beliau tau bahwa takdir telah berkata lain.
Dan....... Yang paling bikin gue nangis adalah, ketika Bu Ainun terbaring koma di ruang operasi tiba-tiba Pak Habibie bilang "Ainun, kamu ingat ini hari apa? Ini adalah hari ulang tahun pernikahan yang ke-48." Ya Allah.... Apalagi, di akhir film ada suara asli Pak Habibie yang sedikit mengenang perjalanan hidupnya dan pertemuan pertama kali dengan Bu Ainun. 

Di buku Habibie&Ainun, Pak Habibie menuliskan sebuah puisi ungkapan kehilangan yang sangat dalam saat beliau harus merelakan kepergian Bu Ainun.

Mana Mungkin Aku Setia…

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan
bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada.
“Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.”
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta,
sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
Selamat jalan, calon bidadari surgaku …
Selain kisah cinta mereka, di film ini gue sedih kenapa orang sejenius Pak Habibie dilupain gitu aja sama bangsa Indonesia (karena kesalahannya) ketika masa itu. Padahal beliau rela menghabiskan waktu demi waktu hanya untuk negara kita. Tetapi karena ada sejumlah kelompok oposisi yang tidak suka terhadap kebijakan-kebijakan Pak Habibie (puncaknya--Referendum/Jajak Pendapat Timor-Timor), Pak Habibie akhirnya jatuh dan memutuskan untuk tidak mencalonkan diri lagi sebagai Presiden. Mungkin, orang-orang yang giat menjatuhkan Pak Habibie tidak benar-benar paham dengan maksud Pak Habibie mengeluarkan Referendum/Jajak Pendapat Timor-Timor.

"Salah satu kesalahan yang dinilai pihak oposisi terbesar adalah setelah menjabat sebagai Presiden, B.J. Habibie memperbolehkan diadakannya referendum provinsi Timor Timur (sekarang Timor Leste), ia mengajukan hal yang cukup menggemparkan publik saat itu, yaitu mengadakan jajak pendapat bagi warga Timor Timur untuk memilih merdeka atau masih tetap menjadi bagian dari Indonesia. Pada masa kepresidenannya, Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi negara terpisah yang berdaulat pada tanggal 30 Agustus 1999. Lepasnya Timor Timur di satu sisi memang disesali oleh sebagian warga negara Indonesia, tapi disisi lain membersihkan nama Indonesia yang sering tercemar oleh tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur. Kasus inilah yang mendorong pihak oposisi yang tidak puas dengan latar belakang Habibie semakin giat menjatuhkan Habibie. Upaya ini akhirnya berhasil dilakukan pada Sidang Umum 1999, ia memutuskan tidak mencalonkan diri lagi setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR." (source: Bacharuddin Jusuf Habibie-Wikipedia Indonesia).


Berterima kasihlah kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan Pak Habibie untuk Indonesia.

"Satu yang saya yakini bahwa God adalah love dalam arti luas. Tuhan adalah cinta antara suami-istri, ibu dengan anak, bapak dengan anak, ibu dengan saudara, keluarganya, rakyatnya. Saya berkeyakinan setiap makhluk hidup direkayasa oleh Allah." -Prof. Dr. -Ing. B.J. Habibie-

Sunday, May 20, 2012

Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

Untuk negaraku tercinta...

Assalamu'alaikum. Indonesiaku yang kucintai, apa kabarmu hari ini? Semoga kau terus berjaya ya, dan tetap menjadi kebanggaan bangsamu.

Indonesiaku, namaku Innal. Sekarang aku duduk di kelas 2 SMA. Aku suka sekali menulis. Kali ini aku akan menuliskan sepucuk surat untukmu.

Indonesiaku sayang, kau makmur sekali. Sumber Daya Alammu berlimpah tak terhingga. Semua orang bahkan negara lain pun terkagum-kagum, termasuk aku. Tetapi, ada yang harus kusampaikan kepadamu wahai negaraku. Mengapa begitu banyak sekali masalah yang tertimbun di negara ini? Aku sering melihat berita di televisi maupun di Internet tentang masalah-masalah krusial di negara ini. Dan jujur saja, lama-lama aku muak dengan pemberitaan yang ‘itu-itu’ saja. Mungkin kau mengerti maksudku...

Ya, aku memang hanya seorang murid biasa, aku seorang rakyat kecil yang kecewa terhadap ‘mereka’. Rakyat kecil seperti aku menjadi korban akibat masalah yang mereka timbulkan, terkadang aku kecewa pada mereka, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa... Dan untuk kesekian kalinya, aku harus pro terhadap apapun yang mereka lakukan. Keputusan selalu ada di tangan mereka. Bukankah negara kita adalah negara demokrasi? Bukankah keputusan itu ditangan rakyat? Maaf, maksudku ‘rakyat kecil’.

Aku sedih sekali ketika negara ini mendapatkan penghargaan ranking 1 untuk korupsi. Sesuatu yang tidak patut dibanggakan bukan? Aku dengar juga tenaga kerja kita diluar negeri belum mendapatkan hak yang layak. Bahkan teman-temanku juga menjadi ‘penyanyi jalanan’, yang hanya tinggal di bawah kolong jembatan. Yang aku herankan, mengapa para ‘pejabat-pejabat besar’ semakin makmur. Sangat ironis ya?

Aku juga sedih apabila kau hanya dijadikan bahan eksploitasi besar-besaran oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Aku sedih apabila salah satu dari budaya negara ini diakui negara lain. Hmm... Tetapi dibalik kekecewaan-ku terhadap ‘mereka’ aku selalu berdoa dan berharap. Berdoa agar negara ini bisa seutuhnya MERDEKA lahir dan batin, berharap agar bangsamu lebih mencintaimu dengan sepenuh hati dan berharap agar negara ini bisa benar-benar BANGKIT.

Aku ingin sekali, kau, kami rakyat kecil, dan seluruh bangsamu hidup dengan nyaman, tentram, tersenyum tanpa duka lara di hati. Aku akan selalu disisimu dan mendukung demi kesejahteraan kita semua. Semoga Tuhan mendengar doaku dan doa para bangsamu. Amin...

Selamat Hari Kebangkitan Nasional! :)

Wassalamu’alaikum.